Showing posts with label fanfict. Show all posts
Showing posts with label fanfict. Show all posts

Tuesday, September 6, 2011

The Freak Tale of Green Day in: Billie and His Famous Pants


Note: penulis tidak tahu kemana tujuan BJ ketika didepak oleh pesawat
Sudah satu jam Billie berjuang menunaikan hasratnya untuk buang hajat. Apa daya? Perutnya sembelit mungkin. Begitulah jadinya bila dia tidak makanan berserat (ironis,kan? Padahal dia ngaku-ngaku vegetarian).
Tiba-tiba saja..
DOR!DOR!DOR!
“Oi, Bill! Udah kelar belum? GANCANG ATUH!! Pesawatnya udah dateng.” Seorang seatmate Billie di pesawat nanti menggedor-gedor pintu toilet yang Billie tempati.
“ Aduh, bentar, Matt. Masih ada urusan yang belum dituai.” Rintih Billie.
(anggap saja seatmatenya itu bernama Matt,ya)
Ding-dong-ding-dong..
Ladies and gentlemen, pesawat Southwest Airlines bernomor xxxxxx akan berangkat menuju ke kota Z, penumpang yang masih ada di ruang tunggu segera menuju pesawat.
“ Tuuuuhhhh.,kan!? Apa gue kate?? Cepet,lo! Selesainnya di pesawat aja nanti.”
“ Iya, iya. Bawel banget,sih.” Dumel Billie seraya mengambil tisu, membersihkan pantatnya. Setelah itu, dikenakan kembali celananya. Kulitnya kusut, wajahnya cemberut.
“Halah, siput jauh lebih cepet cuci tangannya.” Matt kesal sejadi-jadi melihat Billie melakukan gerakan cuci tangan selama 20 detik. Abis waktu,cuy.
“ Biar kumannya ilang.”
Dan akhirnya gerakan mencuci tangan selama 20 detik selesai. Matt segera menarik tangan Billie.
“ Matt ikat pinggang gue ketinggalan...”
“ Gak ada waktu untuk ngobrol, kita harus kejar pesawat.” Matt keukeuh dengan langkah seribu tanpa gubrisan.
2 manusia ini tiba di pesawat. Pramugari memeriksa tiket dan mempersilahkan mereka duduk di bangku sesuai nomor tiket. Beberapa saat mata pramugari itu tertuju pada suatu belahan(ehem..maaf) bokong yang..gimana,lha orang kaukasoid itu berbonus celana dalam warna abu-abu dengan bertulisan “CELANA DALAM KERAMAT INI MILIK BILLIE JOE ARMSTRONG. NGEJAMAH, TANGAN LO JAMURAN” sekaligus berwarna shocking pink. Pengamal tersebut tak lain adalah Billie yang saat ini sedang memakai celana melorot.
“ Ehm..maaf, Tuan. Celana anda melorot terlalu rendah. Dapatkah anda membetulkannya?”
Billie paling sebel bila ada orang yang mengata-ngatai penampilannya apalagi ada seorang pramugari cantik-cantik seksi bohai yang tingginya lebih tinggi dari dia seakan-akan menyindir dia. Di samping itu, dia juga gengsi mau bilang kalau ikat pinggangnya ketinggalan.
“ Bisakah kau mengurusi yang lain daripada mengurusi kayak begituan?”
Pramugari itu terdiam. Kemudian dia kembali ke tempatnya dan berbisik kepada seorang pramugari yang berbodi sedikit berisi dan lebih senior darinya
“ Untung on time. Eeeee...Mau ke mana lagi??” Matt menahan lengan Billie.
“ Toilet.” Kata Billie.
“ Tahan sebentar, Bill.Ini pesawat mau taking. Kalo udah di langit baru lo bisa ke toilet. Liat,tuh pramugari udah memperagakan keselamatan.”
Billie menghela napasnya. Dimatikan Blackberrynya cepat-cepat.
Ding-dong-ding-dong
Kepada yang terhormat Tuan Armstrong, peringatan terakhir untuk segera memperbaiki celana anda karena kami akan berangkat.” Suara interkom di pesawat berkumandang.
Semua mata tertuju pada Billie.
“ Jawabannya tidak.” Tegas Billie.
“ Security...bisa minta bantuan??” pramugari berwalkie talkie dengan cara berbisik-bisik.
Sementara itu di kediaman Armstrong..
“ Mukamu pucat.” Kata Adie cemas memandangi adik iparnya yang baru dari toilet.
“ Ya. Kayaknya aku kena gejala tipes lagi. Kecapekan.”
“ Hari gini kena tipes di negara maju?? Capek,deh.” Ejek Joey.
“ Heh! Gue tinggal di tempat tropis. Lo mau bikin masalah apa sama gue,hah?!” biarpun lemes begitu Audrey masih bisa marah,lho. Apalagi kalo lagi sakit terus dibikin labil.
“ Mom..Mom..!!” seru Jakob berlari-lari.
“ Ada apa, sayang?”
“ Nyalakan TV! Dad masuk TV lagi.”
“ Itu biasa kali.” Dengan malas Joey menyalakan televisi.
3 pasang mata melotot-lotot begitu melihat ada seseorang tua-tua tapi keren tengah ditendang keluar pesawat terang-terangan. Berguling-guling dari tangga pesawat dan mendarat dengan selamat ke tanah. Setelah itu, ditinggal kabur pesawat. Si korban yang notabene udah bapak-bapak ngamuk-ngamuk gak keruan. Seluruh penghuni kebun binatang pindah begitu saja ke halaman bandara. Sementara itu, temannya berusaha menenangkannya.
“ Ooohhh....apa yang kau lakukan Billie..”
Gubrak!
Adie semaput.
“ Mom..Mom...Joey...Mom pingsan!” seru Jakob panik.
“ WOI, Dey! Bantuin napa. Bodi segaban gak dipake.” omel Joey yang melihat Audrey cuma leyeh-leyeh di sofa.
“ Sori, Joey. Udah gue katakan kalo gue kena gejala tipes. Gue mesti tiduran di kamar. Nyokap lo Cuma syok sesaat aja,kok.” Audreypun bangkit dan berjalan penuh perjuangan menuju kamarnya.
“ ELO BELUM TES DARAH!!” seru Joey.
“ Talk to my hand....” kata Audrey lirih seraya melambai gaje karena saking pusingnya.
Sementara itu di kediaman Pritchard di waktu yang bersamaan ketika ABC news menayangkan berita hot...
“Ayah..ayah..! Lihat,deh! Billie ditendang keluar!” seru Stella menunjuk-nunjuk TV
“ WTF!” seru Mike kaget.
“ Ayah,sih kenapa gak ikut? Coba aja ayah ikut terus ngebetulin celana Billie pasti gak akan ditendang begitu.” Kata Stella.(lih. GDA)
“ Lho, jangan salahin Ayah kalo ayah sedang diare. Lagian, ayah bukan emaknya dia kale yang kemana-mana harus betulin celananya.” Kilah Mike.
Sementara itu di kediaman Wright di waktu yang bersamaan juga..
“ Dek, dek!”
“ Apa?” Kadek yang dipanggil Tre segera menyongsong sang bokap angkatnya tercinta.
“ Liat, deh. Ada aki-aki kolot yang keukeuh mempertahankan celana merosotnya. Terus ditendang keluar pesawat,deh.”
Kadek melotot-lotot setelah membaca headline di ABC News yang bertulisan “BILLIE JOE DITENDANG DARI PESAWAT GARA-GARA CELANA MEROSOTNYA”.
“ Papa Tre...tidakkah papa sadar bahwa itu temen papa sendiri..??”
“ Masa,sih??” Tre menyipit-nyipitkan matanya. Udah plus minus gitu. Kebanyakan main game.
“ ITU CAMER KADEK! BILLIE JOE...!!” pekik Kadek sebel.
“ APA!!! OH-EM-JI...!!”
Sementara itu di halaman bandara...
Baru saja ditendang dari Pesawat Southwest Airlines hanya gara-gara celana melorot terlalu rendah. WHAT THE F*CK! Gak becanda!
Setelah itu, Billie menekan tombol tweet dan jejeng, Billie baru saja selesai mengupdate statusnya di acc twitternya.
“ Elu,sih. Nurut dikit napa? Rugi gue beli tiket pesawat mending gue naik bus.” Omel Matt
“ Emangnya siapa yang ngebiayain lo,hah??” semprot Billie.
“ Atasan...”
“ Udah, elu jangan ngebacot lagi. Sekarang gue mau ke toilet dulu!”
Billie mengambil langkah seribu untuk kembali menunaikan urusannya di toilet bandara.
Fin
Curcol: saat ini penulis memang sedang kena tipes.

Saturday, September 25, 2010

The Freak Tale of Green Day in: Gotong Royong


-->
Pagi-pagi benar Tre Cool menelepon kedua partnernya untuk dateng ke rumahnya. Yaa..sekitar setengah 6-an,lha. Emang gak sopan,sih sampai-sampai Tre Cool mendapat makian dari kedua partnernya itu. Ah, apa,sih yang menurut Tre itu gak sopan?
Gak berapa lama, Mike dan Billie tiba dengan mobil masing-masing dan berpakaian tidur lengkap dengan boneka Teddy di tangan Billie. Kedua-duanya memakai mantel tidur berwarna hitam dan kupluk. Maklum, angin musim gugur sekarang mulai berhembus.

“ Oke, selamat pagi, saudara.” Sapa Tre seperti dalam memimpin sebuah rapat penting.
“ Hoaaammm....” Mike membalasnya dengan nguapan. Billie malah lebih memilih untuk tidak menanggapinya.
“ Saya sangat senang saudara bersedia untuk datang ke rumah saya. Dengan ini saya..”
“ Cepatlah, lo mau apa nyuruh-nyuruh kami ke sini? Gak usah formal-formal,deh.” Sungut Billie.
“ Ngecat tembok di lantai bawah .”
“ WHAT!?” Mike dan Billie berseru kompak. Rasa kantuknya langsung hilang.
“ Begini, saudara, pertama-tama kita mengeluarkan isi rumah terlebih dahulu.”
“ Kenapa lo gak manggil tukang aja?” tanya Mike
“ Kok pagi-pagi,sih nyuruhnya?” tanya Billie
“ Mike, mahal kali nyuruh tukang. Lagian pagi-pagi gini,kan seger.”
“ Seger pale,lo? Gue tadi baru aja nabrak kucing yang lagi nyebrang. Keluar biaya dikit napa? Booo...dasar pedit-pelit-korèt-buntutkasiran-capjahè-mèrèkèhèsè*!” Omel Billie yang udah kayak nini2.
“ Itu istilah darimana coba?” Tre bingung.
“ Tauk,dah. Copas dari si Udey,tuh.” Jawab Mike.
“ Ya, udah, deh, Tre. Daripada ngomel, mending langsung kerja aja.” Billie akhirya menerima kerjaan tersebut dengan pamrih.
...
“Mike..bantuin,woy!Ini sofa berat banget!”
“ Bentar,dong. Bill..gue kan lagi mindahin mebel sama kursi.”
“ Mike, udah mindahin akuarium belum?”
“Udahh..lo gak liat apa ada bagian yang nyeplak di tembok ruang tamu?”
“ Adududuh..Mike, Bahu gue keplitek!”
“ ARGH! Payah lu,ah.” Mikepun menghampiri Billie.
“ Mike, Bill, jamban gue di mana?”
“ Tre sayang, di mana-mana jamban tuh di kamar mandi.” Kata Billie mrncoba untuk sabar.
“ Bukan, itu,lho, jamban gue yang tadi di mebel.”
“ BODOH! Itu JAMBANGAN bukan JAMBAN! Tadi gue oper ke Mike. Dia yang naro.. ”
“Gue udah naro di atas mebelnya, Tre. Bentar dulu,ya. Si Billie pake acara keplitek bahunya.”
“Cepatlah, gue belum beli cat temboknya.”
“WTF! KENAPA LO GAK BILANG DARITADI!!!”Billie ngamuk.
“ Sudahlah, Bill. Memarahi Tre gak akan ada gunanya. Itu hanya akan membuang tenaga.” Mike menenangkan Billie.
Sementara bapak-bapak ini bergotong royong, saling bahu membahu mengeluarkan perabotan rumah Tre, Joey and the Gank(Max, Travis, Cole dan Jakob) tengah berjogging ria. Tu..wa..tu..wa..
“ Joey.”
“ Apa, Max?”
“ Itu rumah Om Tre,kan.”
“ Iya, kenapa?”
“ Itu disatronin maling. Liat aja perabotannya pada ditaro di halaman belakang.” Kata Cole.
“APA?!” kelima-limanya langsung ambil tempat di balik sebuah semak tinggi guna bersembunyi.
“ Lo yakin, Max?” tanya Travis.
“ Yakin,lha.Ada 2 orang berpakaian serba hitam lagi bolak-balik ngangkatin barang. Suer!” Max merasa yakin.
“ Hmm..kita susun rencana saja. Bagaimana kalo bla.bla..bla..bla..bla..bla..” Cole menyusun strategi.
“ Guys, aku rasa itu bukan ide yang tepat. Bagaimana kalau kita tanya dulu kepada mereka itu,tuh?” saran Jakob sambil menunjuk-nunjuk dua orang yang tengah mengambil perabotan Tre.
“ Jakob, zaman sekarang mana ada,sih pencuri yang baik hati? Lo bertanya kepada mereka, BANG! Lo dapet ciuman pistol di sini.” Joey menirukan sebuah pistol dengan jarinya dan menempelkannya ke jidat Jakob.
“ Well, terserah kalian, deh. Aku gak mau ikut-ikutan.” Jakobpun keluar dari semak dan melanjutkan acara joggingnya sendirian.
“ Oke, semuanya. Paham?” tanya Cole
“ Paham!”
“ What’s team?”
“ Wildcat!” tiba-tiba Joey berseru. Yang lain pada bengong. Joey suka HSM?
“ Eh, sori salah nyebut. Hehehe..” Joey tersipu malu karena kelakuannya.
“ Ya, udah, gue ulang. What’s team?”
“ EMILY’S ARMY! GO GO!” mereka berhigh five kelompok.
Hingga akhirnya..
“ Haaaa...selesai juga.” Billie menelentangkan dirinya ke lantai sambil ngos-ngosan.
“ Belum selesai, cuy. Kita mesti beli catnya.” Kata Mike sambil neyeka keringat yang mengalir di jidatnya.
Billie langsung manyun.
“ Ayo, cabut!” ajak Tre sambil memutar-mutar kunci mobilnya.
Mike harus menyeret Billie ke dalam mobil Tre yang benar-benar ogah untuk ikut. Apalagi si Trekan menjadi seorang psikopat begitu dia menyentuh mobil.
“ Gue yang nyetir,deh.” Kata Mike.
“ Baik sekali dikau. Gue juga lagi males nyetirnya.”
Begitu Green Day cabut, Joey and The Gank beraksi.
“Pertama kita gotong sofa dulu.”
“ Aduuhh..berat bener, Joey. Apaan, sih isinya? Bused, uang simpenan. Kayak nenek-nenek aja paman-mu itu”Max berkomentar.
“ Eh, si mebel tuh ada jamban. Ati-ati.”
“ Yang bener jambangan, Cole.”Joey membenarkan kata dari si Cole
GROMPYANG!
“ Terlambat Cole, udah gue pecahin. Gak sengaja”Travis dengan terang-terangan mengaku.
“ MAMPUS gue!”ratap Joey.
“ Traviss, hati-hati lo megang etalasenya!!”seru Max panik
“ Oke.”
Jadi, mereka bekerja hingga barang yang ada di halaman belakang Tre tidak tersisa lagi. Tepat peletakan perabot terakhir di rumah Tre, mobil Tre memarkir ke depan garasi.
“ Dasar kau Tre. Buat badan bikin mampus.” Keluh Billie sambil menenteng 4 kaleng cat tembok. Yang diumpat malah sudah masuk ke dalam rumahnya.
“ Ambil sisi positifnya. Akhir-akhir ini perut lo kan tambah ngebuncit. Nah, kan sekarang udah luruh tuh lemaknya.”
“ Ya, lo benar. Lo selalu tau aja nasihat yang mesti diberi untuk gue. Makasih,ya.” Kata Billie. Merekapun berpelukan a la Teletubbies.
“ AAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKHHHHHH............!!!!!!” terdengar jeritan cempreng Tre yang membelah keheningan pagi. Mike dan Billie tergopoh-gopoh menuju ruang tengah.
“WHAT THE HECK IS THIS??!!” Billie tercengang.
“ Aduuhh...sia-sia usaha kita.” Guman Mike sambil menggaruk-garuk rambutnya. Di ruang tengah, tampak perabot rumah Tre yang berdiri rapih seperti sebelum diangkut ke halaman belakang.
“ SUPRISED...!!” tiba-tiba Joey melonjak dari ruang dapur. Kemudian disusul dengan yang lain.
“ Tadi aku, Max, Cole dan Travis melihat maling yang sedang merampok perabotan Tre. Nah, ketika mereka sedang pergi, kami langsung mengangkutnya dengan cepat. Gak tau, deh sekarang malingnya ke mana.” Jelas Joey.
“ Jadi, kalian semua yang ngangkut barangnya?”
“ Semuanya, Sir. Kami juga bersih-bersih lantai.” Kata Max.
“ Oh,iya. Aku memecahkan jambangan yang ada di meja. Maaf, Sir. Aku janji, nanti aku ganti dengan jambangan yang mirip.” Kata Travis.
“ OMFG!!!” Trio Green Daypun langsung semaput.
Note:
pedit-pelit-korèt-buntutkasiran-capjahè-mèrèkèhèsè (c) quote guru di SMP gue dulu .
DILARANG DICOPAS QUOTENYA. TX!

Friday, September 3, 2010

The Freak Tale of Green Day in: Evil In The Sunny Day(Part.2)

Note: Akhirnya...
Beres juga part. 2. Otak gue udah dipenuhi dengan tugas-tugas sebagai warga baru SMA serta ulangan harian seminggu ini. Mumet-mumet.. Gue bikin ini juga udah lama banget.
Demam bola udah lewat 2 bulan malah. Selesainya aja pas gue mau ulangan harian fisika pertama.

Suasana di rumah keluarga Armstrong kembali sepi. Jakob telah pergi beberapa jam yang lalu untuk memenuhi janji main dengan teman-temannya. Tak berapa lama, Adie dan Joey angkat kaki ke Atomic Garden. Sebenarnya, Joey ogah banget membantu Ibunda tercinta di tempat gawenya. Namun, hatinya disogok oleh alasan banyaknya karyawan yang mengambil cuti dan Kadek akan membantunya. Jadi, yang ada di rumah hanyalah sepasang Homo sapiens berjenis lelaki dengan tampang abstrak. Mereka tengah duduk bercengok-ria di sofa ruang TV.

“ Cuy, bukannya hari ini lo mesti ngejemput adek lo di bandara?” tanya Tre penuh harap.
Pekerjaan pertama yang harus dilakukan Tre untuk menjahili Billie adalah, membuat Billie keluar dari teritorial rumah. Dengan begitu, Tre leluasa untuk mengambil obat pencuci perut di kotak obat yang terletak di sudut dapur.
“ Malay gue. Pengen guling-guling di kasur. Masih kangen rumah.” Ucapnya seperti orang yang gak niat jemput orang(ya,iyalah...).
“ Tega lo. Jadi siapa yang ngejemput?”
“ Gue minta Anna yang ngejemput.” Billie beranjak dari sofa dan menuju kulkas. Mengambil 2 botol bir.

Selama Billie sibuk mengobrak-abrik isi kulkas yang ngejelimet, Tre merayap-endap secara kilat ke sudut dapur guna mengambil obat pencuci perut yang ada di kotak obat. Sepersepuluh detik kemudian, dia melompat ke sofa dan duduk semanis-manisnya tepat ketika Billie menggenggam 2 botol bir dingin. Posisi badannya masih berhadapan dengan kulkas.
“ Sini, Je, biar gue aja yang ngebuka birnya.” Tre menawarkan bantuan.
Tanpa rasa curiga, Billie mempersilahkan Tre mengunjuk kebolehannya dalam membuka tutup botol bir. Menurut Billie, Tre memang paling jago membuka tutup botol tanpa harus menggunakan gigi Temondinho atau Ronaldinho ataupun pembuka tutup botol. Tangan gesitnya, menuangkan bubuk pencuci perut ke dalam botol bir. Kemudian, Tre menyodorkan Bir 'beracun' itu ke Billie.

“ Thanks.” Billie meletakkan bir itu ke mebelnya.
Rese lo, Bill, langsung diminum napa..” dumel Tre dalam hati.
Hidung Tre kembang kempis melihat Billie yang belum ingin menenggak birnya.
“ Lo kenapa,sih? Daritadi gue liatin idung lo kembang kempis.” Billie heran melihat kelakuan Tre.
“ Gue....gue...mau ke toilet.”
“ Lo kebelet? Ya udah sana pergi.” Billie yang tidak tahu rencana Tre mempersilahkannya untuk ke toilet.
Dan ternyata, emang beneran Tre kebelet mau buang air kecil.
“ Argh! Payah si Billie, giliran gue gak kerjain pake bir, diminum habis. Giliran gue kerjain, gak diminum.”
Tre mendumel kesal sambil menarik resleting celananya dan berjalan menuju pintu keluar.
“ Shit! Ini pintu susah banget dibuka.” Tre memutar knop pintu kamar mandi secara paksa.
CKLEK! Gagang pintu yang dipegang Tre copot.
Tre bengong...
Aahhh... untung aja. Makasih,ya, Om Tré. Baru kali ini pintunya rusak.”
“ Light Bulb! Mwahahahahahahahhahaha...uhuk..uhuk..uhuk!”
...
“AARGGGGHHH!!!! DASAR LO IDIOT! NGAPAIN PAKE ACARA LUPA KALO INI PINTU BUAT JEBAKANNYA SI BJ??!!” Tre memarahi dirinya sambil berteriak-teriak kesal.
Percuma juga dia menjerit-jerit sebab, Billie melapisi kamar mandinya dengan lapisan kedap suara. Tak ada siapapun yang di atas. Sampe suaranya ilang juga, hanya akan terdengar secara samar-samar dan perlahan menghilang ditelan ributnya suara televisi yang dinyalakan oleh Billie di lantai bawah.

Sementara Tre Cool ada di WC, tau-tau Mike dan anak bungsunya datang ke rumah Billie.
“ Tumben, bro, bawa si Brixton....”
“ Iya, nih. Bini gue lagi pergi ke rumah ortunya. Stella lagi ngebantuin Kadek sama Joey. Jadinya ya, gue yang jaga si Brixton.” Mike membetulkan gendongannya. Dia sedang menggendong Brixton.
“ Terus ke sini mau ngapain?”
“ Numpang nonton bola. TV di rumah rusak, Bro. Gak sengaja, Si Brixton ngelempar remote ke layar TV.”
“ Wow, I like your style, Brixton.” Billie tersenyum ke arah Brixton.
Brixton menatap Billie dengan mata birunya. BUG! Dengan tampang innocent, Brixton memukul wajah Billie.
“ Ha...ha..ha... makan,tuh style.” Ejek Mike
Billie hanya diam. Pasti si Brixton takut dengan wajahnya pas lagi tersenyum.

“ Hei, ini bir siapa?” tanya Mike setelah dia ambil duduk di sofa ruang televisi.
“ Ohhh... itu punya gue sama Tre. Ambil aja. Nanti gue buka lagi.” Kata Billie yang sedang menggendong Brixton. Kali ini Brixton tidak takut dengan Billie.
Mike mengambil salah satu botol bir yang ada di mebel
“ Si Tre ke mana? Dia nginep di sini,kan?” tanya Mike sambil menenggak seperempat isi dari botol bir.
“ Lagi di WC. Tadi dia kebelet mau kencing.” Jawabnya sambil membetulkan posisi gendongan.
“ Aduh, Brixton kamu sekarang berat banget.” Billie mengajak bicara Brixton.
Mike memandang Billie yang tengah asyik mengobrol dengan Brixton. Udah kayak bininya aja,tuh. Lalu, si Jangkung ini membiarkan Billie bermain bersama anak bungsunya yang masih imut-imut. Dia duduk di sofa yang mengarah ke televisi.
“ Oy, gue keluar dulu,ya. Stok cemilan udah abis,nih. Entar lagi,kan bola mulai.”
“ Ya,udah. Santai aja, perampok gak akan nyatronin rumah lo. Paling banter pulang-pulang gue sama TV lo udah gak ada.” Mike bercanda garing.
“ Haha..lucu banget.” Ejek Billie nyengir garing.” Si Brixton mau gue bawa,gak?”
“ Bawa aja kalo lo mau. Gue capek. Tuh anak berat banget. Btw, rasanya gue bawa keretanya. Ada di bagasi mobil.”
Billie kabur ke luar untuk mengambil kereta Brixton dari bagasi mobil Mike sedangkan, Mike asyik menonton film kartun Spongebob.
“ Cabut,ya.” Pamit Billie sambil melenggang pergi dengan mendorong kereta berisikan Brixton keluar menuju supermarket .
Billie sepertinya kangen masa-masa di mana dia masih dapat menggendong Joey dan Jakob. Sekarang? Boro-boro sanggup. Usianya aja udah hampir 40 tahun. Bisa encok dia ngegendong. Apalagi si Joey. Beuh...sama aja kayak ngegendong Beruang (hehehehe...peace, Joey)

10 menit setelah Billie cabut pertandingan sepakbola Jerman melawan Spanyol dimulai. Bersamaan dengan itu, terdengar gedoran pintu depan yang terburu-buru.
“ Aduh...siapa,sih. Nanggung,nih. Cepet amat Billie balik” Keluhnya. Mike berjalan gontai dan membuka pintu depan
“ Lha, Udey ,toh. ” Mike menunduk wajahnya untuk melihat Audrey yang jauh lebih pendek darinya. Nampak wajahnya asemmmm..banget. Tangan kanannya memegang kerek koper dan menggendong ransel di punggungnya. Serta tas berisi netbook baru yang dipegang di tangannya.
“ Makasih, Mike.”Audrey tersenyum. Ya, seenggak dia bisa tersenyum sesaat.

Mike membantunya dengan membawa koper.
“ Kamu ke sini sama siapa?”
“ Kak Anna. Setelah itu dia langsung pergi lagi karena masih ada kerjaan di Rumah Sakit.” Jawab Audrey masih sebel. Perlu diketahui bahwa Anna bekerja di Rumah sakit khusus anak-anak.
“ Heuuuhhhh.....si Billie gue aduin ke Mom biar tau rasa,dah.” Dumelnya tertahan.
“ Something wrong?”
“ Big mistake.” Audrey menurunkan segala bawaannya dan meletakknya di lantai (kecuali netbooknya diletakkan di mebel).” Billie tuh udah janji buat ngejemput di bandara. Kenyataannya, ditungguin 2 jam gak dateng-dateng, tuh orang. Yang ada Kak Anna yang ngejemput. Padahal aku bela-belain cepet-cepetan buat liat bola. Udah mulai belum?”
“ Tuh.” Mike memaju dan mengarahkan bibir tipisnya ke televisi. Nampak Podolski sedang diinjek kakinya.
“ Aduh, kesian banget. Mana gak minta maap lagi, tuh Spanyol.”
“ Billie sekarang kemana?”
“ Supermarket. Beli stok cemilan buat liat bola sambil bawa Brixton.”
Audreypun ambil duduk bak abang becak. Sebodo amat sofanya jadi kotor karena Chuck Pianonya.
“ Ini daritadi belum gol si Jerman teh?”
“ Yoi. Spanyol ketat banget.”
“ Yang kudengar,ya, Paul si gurita ngeprediksi Spanyol yang menang.”
“ Haduhh...Jerman gak boleh kalah. Ogud sama Tre taruhan sama Billie,nih. Doi milih Spanyol ketimbang Jerman.”
“ Lha, emang Mike aja? Aku juga gak pengen.” Alis Audrey kembali berkerut-kerut.
“ Btw, si Tre mana? Gue denger kalian berdua sampe berantem sejadi-jadi gara-gara si Billie kalah taruhan.”
“ Kalo itu kah beda story. Tre lagi di kamar mandi. Kebelet kencing katanya. Tapi, kok ditungguin daritadi gak balik-balik,ya?”
“ Mungkin aja berlanjut. Siapatahu dia sakit perut.” Audrey dengan seenaknya memprediksi keberadaan orang. Mereka berdua sama sekali tidak tahu bahwa Tre itu terjebak di jebakannya sendiri alias senjata makan tuan.

1 jam berlalu. Billie belum balik-balik juga. Ada apa gerangan? Yang jelas mereka berdua yang sedang duduk di sofa saking asyiknya menonton pertandingan antara Jerman vs Spanyol itu sampe melupakan segalanya yang ada di dunia ini. Hingga sekitar di menit ke 70....
TUING!!!GOOOLLLLLLL
“ ANJRIT!” umpat Audrey kaget.
“ WTF!” tambah Mike.
Berdasarkan umpatan-umpatan di atas, kalian dapat mengetahui bahwa Spanyollah yang mencuri angka dari Jerman. 1-0. Gimana gak mau kaget coba, Wong Spanyol bernama Puyol itu telah menyundul bola ke gawang Jerman di menit-menit terakhir.
“ Tenang, Mike. Kita masih ada harapan beberapa menit lagi. Paul itu Cuma gurita doang. Dibikin gurita goreng juga dia gak bisa ngeprediksi lagi.” Audrey mencoba menghibur Mike.
Nyatanya....

“ Aaa...lemes gue.” Mike merosot madesu. Kali ini jagoannya Billie yang menang. Audrey juga kecewa. Dia juga dukung Jerman.
“ Mike, si Tre udah dari kapan di WC?” tanya Audrey
“ Waktu gue dateng si Tre udah di sana. 10 menit setelah Billie pergi dia juga masih ngedekam di sana.”
“ Orang diare mana mungkin sampe satu setengah jam begini. Ato kita cek saja?”Audrey merasa cemas. Sesinting-sintingnya Tre pasti mana mungkinlah dia ngedekam di WC sampe segitu lamanya.
Mike menyetujui ajakan audrey. Lantas, mereka ke atas. Tak ada suara. Sunyi senyap.
“ Treeee....!!!” Mike menggedor-gedor pintu kamar mandi.
“ Lo ngapain aja di kamar mandi?”
Gedubruk! Terdengar seperti sesuatu yang menghantam ke pintu.
“ Eh, kenapa lo? Lo diare berat?”
“ Gue... kekunci.....” kata Tre lirih.
“ Kekunci gimana?” Mike masih gak ngeh.
“ GOBLOG! INI PINTUNYA RUSAK! CEPAT BUKAA...!!” Tre mundung.
“ Ya..ampun..” Audrey mencoba membuka kenop pintu. Untung berhasil kebuka dan Trepun berhasil keluar dengan posisi jatuh tergelepak sperti orang mau pingsan. Wajahnya nampak kuyu bahkan, jambul terkenalnya saja tampak layu.
“ Astaga, Tre, satu setengah jam situ di sini?”Audrey tercengang.
“ Iya, ini buat ngejahilin Billie. Yang jelas lo gak minum Bir,kan? Itu salah satunya gue kasih obat pencuci perut buat birnya Billie. Yang ada guenya yang lupa kalo make toilet bukan yang ini.”
“ Wkwkwkwwkkwk....senjata makan tuan,dong.” Audrey ngikik abis.
“ Untung aja gue minum yang punya lo, Tre. ” Mike bernapas lega.
“ Duh, mana gue ngelewatin FIFA lagi. Siapa yang menang?”
“ Spanyol.” Jawab Audrey dan Mike kompak. Tambah lemaslah Tre. Berarti dia juga sama-sama kalah taruhan dengan Billie.
“ Aaaaa...Si Billie menang, deh.”

“ MIKEE...TREEE...GUE BARU PULANG. SORRY, MIKE. GUE BAWA KELILING-KELILING SI BRIXTON. GUE KANGEN GENDONG ANAK.”
Panjang umur. Yang diomongin udah dateng. Mereka bertiga yang di atas saling pandang. Timbul rencana jahat yang sama di benak mereka.
Mike berlari-lari turun ke bawah. Kebetulan Billie yang baru meletakkan Brixton di sofa pengen ke toilet.
“ Bill, gue duluan,ya. Kebelet,nih.” Mike buru-buru menutup pintu toilet lantai bawah sebelum Billie merespon apa-apa.
Sebelum Billie nyampe ke atas, Tre membetulkan kenop pintu sedemikian rupa.
Nyampe ke atas Billie melihat adeknya serta Tre yang sedang bercengkrama.
“ Aduh, Deyy...sori,ya. Gue hari ini capek banget.” Billie melas minta maaf.
Dan lagi-lagi Tre dicuekin oleh Billie. Bahkan lebih cuek dari bebek.
“ Ya, gak pa-pa. Billie kemarin kan abis pulang gawe ya gue ngerti.” Respon Audrey
Padahal dalam hatinya bilang gini...
Liat aja entar pembalasan kami bertiga.

“ Eh, ada Brixton,toh.” Audrey mengangkat Brixton yang sedang memegang remote TV dan memangkunya.
“ Aduh, Mike. Brixton udah berat banget.”
“ Eh, ati-ati, Dey.” Mike menarik remote TV milik Billie dari tangan Brixton.
“ Gue numpang nonton di sini gara-gara Brixton ngelempar mainannya ke layar TV. Rusak langsung.”
Tre dan Audrey ketawa meledak. Kemudian mereka hening. Alam bawah sadar mereka mengatakan bahwa 5 detik selanjutnya akan ada suatu ledakan

5..4..3..2..1..
“MIKE, TRE, UDEY!!! BUKA PINTUNYA, KNOP PINTU KAMAR MANDI GUE RUSAKKKK!!!”
Terdengar jeritan Billie dari kamar mandi atas. Biarpun samar-samar, nampak terdengar jelas di telinga mereka bertiga.
Bukannya ngebantuin, mereka bertiga malah ketawa ngakak.
“ Apa salah saya...????” ratap Billie sambil merosot turun ke lantai kamar mandi.

Wednesday, July 28, 2010

The Freak Tale of Green Day in: Evil In The Sunny Day(Part.1)

Note: based from true story of the writer.
Matahari musim panas bersinar cerah. Tak ketinggalan, langit memamerkan birunya di angkasa. Alarm pukul 7 pagi berbunyi nyaring. Billie Joe bangun dari tidur lelapnya di malam gelap kemarin (kok rada nyambung ke lagu “Ambilkan Bulan, Bu” karya Alm. A.T Mahmud?). Dengan kedua matanya yang masih tertutup, dia menggapai-gapai tombol off pada alarmnya. Setelah membunuh tanpa cara kasar, dia mengerjap-kerjap matanya yang belekan. Rasanya masih berat dan ingin tidur lagi. Maklum, hari ini adalah hari pertama Green Day pulang ke rumah untuk beristirahat dari tur Eropa gelombang ke-2 yang telah mereka selesaikan pada tanggal 4 Juli lalu.
Billie memaksakan dirinya untuk beranjak. Dibuka jendela kamarnya lebar-lebar. 02 dan Vitamin D dari sinar matahari merasuk ke dalam tubuh Billie yang masih loyo. Bapak-bapak ini menutup matanya. Mencoba mendengar suasana pagi ini. Gemerincing bel sepeda pengantar koran, tukang susu, Yell-yell tukang roti, perseteruan seru antara kedua anaknya dalam memperebutkan kamar mandi dan gemerisik minyak digoreng oleh Adie, istrinya singgah di kedua telinganya.
“ Aaaaa....pagi nan indah.” Gumannya puitis dan bahagia.” Argh! Mana gue harus ngejemput ade gue yang pulang hari ini lagi. Aduh, malaynya selangit. Minta sama Anna aja,deh.” Putusnya gak peduli sambil melakukan sedikit senam leher dan merenggangkan badannya.
Lalu, setelah melakukan kegiatan MCK (Mandi Cuci Kakus) dan menelepon kakaknya, Billie turun ke bawah dengan santai.
“ Selamat pagi, Sayangku.” Sapa Adie dengan mesra ketika suaminya muncul ke dapur. Dikecupnya sang suami dengan penuh kasih sayang.
“ Selamat pagi, Adieku sayang.” Billie membalas cium istrinya.
“ Biar aku saja yang goreng bacon. Kamu duduk saja di sini.” Billie menggeret kursi meja makan dan mempersilahkan Adie duduk. Jadi suami yang baik ,gitu.
“ Cieee....yang sedang mesra-mesraan mah beda..” ledek Tré yang lagi lewat. Dia terpaksa nginep di rumah mereka . Kunci rumahnya kebawa Ruri yang sedang liburan ke Bali.
“ Ke ruang TV sana.” Billie mengusir sohib bontotnya itu dengan kasar.
Rasa iri hati menjalar ke sekujur perasaan Tré. Dia merasa mestinya dialah yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari seorang teman dan keluarga. Ketika Tre berjalan ke ruang TV, samar-samar, dia mendengar suara Jakob. Arah suara tersebut berasal dari kamar mandi lantai atas di sebelah kamar Joey.
“ Kenapa, tuh anak teriak-teriak?” Tre segera angkat kaki ke sana. “ Kenapa Jake?”
“ Om Tré, tolong buka pintunya dari luar. Jakob gak bisa buka,nih..” pintanya panik.
“ Aduh, kasihan kau, Nak. Sebentar,ya.” Tré pun memutar kenop pintu.
“ Aahhh... untung aja. Makasih,ya, Om Tré. Baru kali ini pintunya rusak.” Jakob menghambur ke dalam pelukan Tré sambil menahan tangis.
“ Kenapa, tuh anak?” Joey yang baru dateng melihat adiknya tengah memeluk Tre dan hampir nangis.
“ Ohh... tadi dia kekunci di kamar mandi. Pintunya rusak."
“ Heuh, mestinya Om ngebiarin Jake di dalam.” Kata Joey dengan muka menyesal.
“ Jahat lo!” Jakob menimpuk abang semata wayangnya itu dengan sendal rumahnya. Yang ditimpuk malah kabur duluan.
“ Om, nanti tolong bilangin, Dad,ya. Jake buru-buru mau ke taman. Ada janji maen basket sama temen.”
“ Iya, nanti Om sampein.”
Jakob berpamitan dengan tre dan berlalu menuju tangga.
“ Jake, tunggu dulu! Gak salah,nih kamu main basket dengan handuk masih melilit di pinggang?” sindir Tre
Wajah Jakob bersemu merah. Dia baru sadar bahwa dia belum berpakaian lengkap. Dibenaknya, terbayang di manac dan bagaimana caranya dia menaruh mukanya nanti bila lilitan handuk itu terlepas dari tempatnya. Lantas, si anak manis ini berlari menuju kamarnya. Tepat setelah Jakob masuk ke kamar, Tre mendapat ide keisengan khusus untuk Billie.
“ Light Bulb! Mwahahahahahahahhahaha...uhuk..uhuk..uhuk!”
Saking semangat Tre mengeluarkan tawa kejahatannya, seekor lalat hijau masuk dan bermain ke dalam mulutnya.
Apa yang sedang ia rencanakan?
To be continued...

Wednesday, May 5, 2010

The Freak Tale of Green Day in: Kacamataku Membawa Bencana

Matahari tahun ini emang lagi silaunya. Selain terik dan membuat badan kepanasan, akhir-akhir di musim semi ini, hujan tidak satupun yang eksis. Maka, Billie Joe berniat untuk membeli kacamata hitam guna menangkal sinar matahari yang menyilaukan. Padahal kacamata hitam milik Billie sudah bejibun tertumpuk di lemari bajunya. Adie tidak tahu harus mengomel apalagi. Sebab, karena kacamata2 tersebut, dia tidak dapat meletakkan berbagai aksesorisnya,

“ Jake, temenin Dad beli kacamata,yuk.” Ajak Billie kepada anak bungsunya.

Jake yang lagi asyik bermain Nintendo DSnya menoleh sedikit ke arah sang ayah. Kemudian, dengan muka cueknya, dia berpaling kembali ke Nintendo DSnya.

“ Sama Mom aja. Siang ini aku gak pengen keluar. Kalo musim semi sepanas ini. Gimana nanti pas summer” Jake menolak mentah-mentah ajakan ayahnya.

“ Mom tadi sudah Dad ajak. Gak mau. Joey sama Udey mana?”

“ Dad lupa,ya? Hari ini,kan hari Minggu, setelah Udey selesai misa, dia langsung latihan koor sampe sore. Kalo Joey, paling banter hang out bareng pacarnya.”

Maka, lemaslah Billie. Tapi, tiba-tiba dia teringat dengan kedua sahabatnya.

“ Halo, Tre. Hari ini kita ke mal,yuk.”

“ Gila lo,ya. Panas-panas gini lo ngajak gue keluar. Ogah!” tolak Tre ketus.” Gue mau ke tempat anak gue di New York.”

“ Yeee… elu gimana,sih? Gak pengen keluar eh, lo malah ke NY buat ngejenguk anak lo. Katanya kepanasan.”

“ Bodo.” Sahut Tre cuek. Dengan seenak udel bodongnya(sebenarnya, puser Tre sama sekali gak bodong. Sedikit didramatisasi dikit boleh,dong), Tre memutuskan pembicaraannya.

“ Jiah, kejam banget,sih, Tre.” Dumel Billie. Kemudian, dia menelepon sohibnya yang satu lagi, Mike Dirnt.

“ Hai, Mikey!”

“ Ya? Ada apa, Billie?” Mike emang sudah kenal suara Billie begitu dia disapa lewat telepon.

“ Hari ini ke mall,yuk.”

Mike hening sejenak.

“ Woy, lo kok diem aja? Ayo, nanti makan siang gue yang nraktir. Lusa,kan lo ultah.”

Mendengar kata ‘traktir’ Mike langsung setuju.”Ayo. Pake mobil gue aja,ya.”

“ Oke. Thanks, Bro.”

15 menit kemudian…..

Dinn..dinnn… suara klakson mobil yang dibunyikan oleh Mike bergema sampai ke dalam rumah Billie.

“ Ah, Dad sudah dijemput. Dad pergi dulu,ya, Jake.” Pamit Billie kepada anaknya.

“ Iya. Daahhh…”

“ Sayang, aku pergi dulu,ya.” Billie mencium Adie.

“ Hati-hati di jalan. Jangan beli kacamata hitam!” pesan Adie tajam.

“ Iya, Adieku sayang….” Billiepun ngeloyor pergi menuju mobil Mike.

Tapi..kenyataannya…

“ Eh, gimana, Mike? Keren,gak?” Billie mematut-matut dirinya sambil bergaya narsis di depan cermin datar dengan kacamata hitam yang saat ini dia pakai.

“ Woy, bukannya istri lo udah ngewanti-wanti lo untuk gak beli ini?”

“ Ahh… gue bosen dengan yang ada di lemari baju gue.”

“ Disumbangin,kek ke orang lain. Ato sumbangin,kek ke orang yang ada di rumah lo.”

“ Ahh.. gue sayang banget dengan kacamata-kacamata hitamku, Mike.” Billie bergelayut manja di lengan Mike(Hiii…)

“ Ah, gini aja kita pulang malem nanti. Adie kan udah tidur. Jadi, dia gak akan ngeliat gue beli kacamata hitam”

Awalnya Mike diam saja. Dia berpikir Billie akan melakukan kegiatan rutinnya sepanjang malam di sofa merah yang empuk yakni,hayomikirapa? Karaokean sampai malam,tau!. Karena Billie merengek-rengek terus, Mikepun akhirnya mengiyakan permintaan Billie

Tengah malampun merebak. Dua manusia ini pulang. Kebetulan Mike memarkirkan mobilnya jauh dari mall. Jadi, mereka kudu jalan pake kaki untuk ke sana. Jaraknya agak jauh. Dalam perjalanan menuju mobil Mike, Billie melihat seonggok bayangan hitam.

“ Ahhh…bayangan hitam doang,kok.” Billie meremehkan. Dia terus aja berjalan.

“ Woi, itu ada …”

GEDUBRAK!GEDEBUG!BUG!BUG!BUG!BUG!CKIIITTT..!!JEGERRR…!!!!

………..

Billie membuka matanya. Sinar matahari pagi memantulkan cahayanya sehingga, membuat matanya kesilauan.

“ David, Alan, Marci, Hollie, Anna, Mom, Udey, Joey, Jake, Mike, Tre! Billie udah sadar.” Kata Adie senang.

Lantas, orang-orang yang Billie kenal dekat dan Billie sayangi mengerumuni dia yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.

“ Billieku sayang!” Adie memeluknya sambil menangis.

“ Aduh, Dad. Mestinya aku yang nemenin Dad ke Mall” sesal Jake. Matanya banjir dengan air mata.

“ Dad, Kadek ngebawain buah buat Dad.” Kata Joey.

“ Gue kira lo mau nyusul bapakmu, Bill. Abis lo diem kayak mayat selama 2 hari.” Kata Tre.

“ Franky, gak boleh ngomong gitu!” tegur Mike.

“ Nak, Mom takut sekali kehilangan kamu.” Ollie, ibu kandung Billie memeluk anak bungsunya erat-erat begitu Adie selesai memeluk suaminya.

“ Aku masih syok gara-gara lo gak sadar selama 2 hari,nih.” Omel Audrey.

“ Ini di mana?” Tanya Billie lirih.

“ Rumah sakit. Kamu jatuh beguling-guling dari tangga. Setelah itu, kamu langsung ketabrak mobil.” Jelas Alan, kakaknya.

“ Hah? Sejak kapan?” Billie jadi linglung.

“ Sejak lo pakai kacamata hitam. Dasar goblok! Kalo udah malam, di mana-mana kacamata hitam itu dilepas. Bukan didiemin aja di depan mata.” Marci mengomeli adiknya.

Billie langsung ingat kejadian yang menimpa dirinya. Rupanya bayangan hitam yang dia lihat itu adalah tak lain dari sederet anak tangga. Dia masih merasakan bagaimana pusingnya jungkir balik dari tangga dengan beguling-beguling bak drama di TV. Yang patut disyukuri, dia tidak merasakan bagaimana dia ditabrak. Ajaibnya, dia hanya mengalami luka ringan di kepala dan keseleo pada kakinya. Hanya ketidaksadarannya yang membuat orang-orang di sekitarnya cemas.

Joeypun menyalakan televisi. Di layar kaca tersebut, tampak berita entertainment yang mengulas Billie jatoh dari tangga bahkan, cara jatohnyapun terekam oleh CCTV. 100% terlihat dengan sangat jelas.

“ Hahahahahaha…..!!” Tiba-tiba Audrey dan Tre ngakak. Entah kenapa kalau mereka berdua ketawa pasti selalu nyambung.

“ Eh, kalian kok ketawa,sih?” tegur David.

“ Bukannya bermaksud gak sopan, Big Bro. Tapi, cara jatuh Billie lucu banget.” Jelas Audrey.

“ Iya, juga,ya. Hahahahaha…” Davidpun ikut tertawa.

Pada akhirnya yang lain juga ikut ketularan tertawa ngakak. Hanya Billie yang manyun bibirnya. Andaikata dia menuruti petua istrinya, kejadian seperti ini tentulah tidak akan terjadi. Nyesel,deh.